Refleksi Pasca Lapangan


Kecamatan Mlonggo merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Jepara. Nama Kecamatan Mlonggo sendiri berasal dari kata Mbah Longgopati yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Beliau sangat berjasa dalam memajukan wilayah tersebut serta sangat disegani oleh warga. Kemudian suatu saat Mbah Longgojati meninggal dunia. Untuk mengenang beliau, maka tempat tersebut diberi nama Mlonggo yang hingga saat ini menjadi Kecamatan Mlonggo. Lokasinya yang jauh dari pusat kota tidak membuat Kecamatan Mlonggo kehilangan identitas. Penduduk yang tinggal di Kecamatan Mlonggo pun tidak kehilangan akal untuk memajukan daerah mereka. Hal ini dapat terlihat dari hiruk pikuk aktivitas yang mereka lakukan.

Desa Jambu merupakan sebuah desa utama yang ada di Kecamatan Mlonggo. Desa dengan keramahan penduduknya ini merupakan pusat aktivitas di Kecamatan Mlonggo karena merupakan Ibu Kota Kecamatan. Pada awalnya, Kecamatan Mlonggo ini didominasi oleh persawahan dan kebun yang ditumbuhi oleh tanaman buah-buahan di beberapa tempat. Tanaman buah-buahan yang paling banyak tumbuh yaitu jambu, duren dan mangga. Berdasarkan tanaman buah yang ada pada tersebut digunakan oleh warga untuk menyebut daerah tempat mereka tinggal, misalnya Desa Jambu yang penamaannya sendiri berasal dari tanaman jambu yang tumbuh pada wilayah tersebut.

Di Desa Jambu inilah kami melakukan kegiatan lapangan studioproses perencanaan. Kegiatan lapangan ini kami awali dengan pembagian kuisioner dan wawancara di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI merupakan sarana penunjang aktivitas penangkapan, jual dan beli berbagai jenis ikan seperti ikan kembung, kuro, kakap dan hiu. Aktivitas penanangkapan dan penjualan ikan dilakukan oleh penduduk asli Desa Jambu. Sedangkan asal konsumen sebagian kecil berasal dari daerah  diluar Desa Jambu seperti Desa Srobyong dan Desa Sekuro.

Saat itu terdengan dering bunyi alarm yang membangunkan tidur lelap kami. Saat itu menunjukkan pukul 4 pagi. Kami pun beranjak dari tempat tidur dan bergegas mempersiapkan diri karena pagi itu adalah hari pertama kami melakukan survey. Survey pertama ini dilakukan oleh divisi dua, yaitu divisi yang khusus bertugas untuk membagikan kuisioner aktivitas jual beli di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Jambu.

Dalam suasana subuh yang masih begitu hening, di perjalanan tak henti-hentinya memandang pemandangan yang masih asri dan terkesan rindang. Sekitar jam 04.15 kami sampai di tempat tujuan. Seketika bau amis pun menyeruak. Terlihat sebuah bangunan utama di TPI. Dalam bangunan ini terdapat sebuah ruangan kecil yang digunakan petugas TPI untuk memantau kondisi di TPI. Sebelah selatan dari ruangan ini tampak halaman terbuka yang beratap untuk aktivitas jual beli ikan. Sebagian pedagang menjual ikannya di halaman tersebut. Selebihnya pedagang menjual ikannya di selatan bangunan tersebut yang masih berupa tanah kosong.

Pada jam 04.30 pagi saat sang surya masih samar-samar, terlihat banyak pedagang yang sudah menjajakan ikannya di TPI. Mereka terlihat sibuk menata bak-bak tempat ikan dan melayani pembeli. Beberapa pedagang tampak menghitung ikan yang hendak dibeli, ada juga yang menghitung uang dari hasil berjualan ikan. Di tengah hiruk pikuk jual beli itu, kami mulai menyebarkan kuisioner kepada pedagang dan pembeli ikan. Banyak pedagang yang di tengah kesibukannya melayani pembeli sehingga kami harus bersabar menanti satu pembeli terlayani. Namun, kendala itu terbayar sudah karena kertas form kuisioner yang telah kami targetkan telah penuh terisi.

Aktivitas jual beli yang dilakukan di TPI Jambu tergolong tinggi dan ramai. Namun sayangnya, TPI yang ada di Desa Jambu belum nyaman untuk tempat berjualan ikan, untuk itu perlu dilakukan perbaikan. Lokasi untuk berdagang ikan perlu dibuat bangunan yang lebih luas untuk dapat menampung aktivitas jual beli yang terjadi mengingat masih ada pedagang yang berjualan di tanah kosong. Selain itu, perlu adanya saluran pembuangan limbah yang baik sehingga para pedagang tidak membuang limbah di  tanah kosong yang menyebabkan jalanan becek. Saya berfikir dan merasa kasihan dengan pedagang ikan yang berjualan di TPI karena pada saat orang-orang tidur, mereka bekerja untuk mencari nafkah. Pada tengah malam mereka menunggu nelayan untuk membeli ikan dan dijual di TPI tersebut. Apabila hasil tangkapan ikan sedikit maka para pedagang sedih karena hasil jualannya tidak dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Konsumen yang ada di TPI tersebut membeli ikan sebagian untuk dikonsumsi sendiri dan ada pula yang dijual kembali.

Kesesokan harinya, kami melakukan survey mengenai traffic counting di jalan Jambu-TPI. Survey ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas dari berbagai macam jenis kendaraan yang mengunjungi TPI pada saat aktivitas pada lokasi tersebut dimulai. Suasana TPI pukul 11.00 ternyata berbeda dengan suasana TPI pada siang hari. Pada malam itu terlihat sekumpulan pedagang yang membagi-bagi hasil tangkapan ikan dari nelayan. Ternyata pedagang-pedagang tersebut saling bekerja sama dan membagi sama rata ikan tangkapan nelayan yang mereka beli. Kami merasa sangat bangga terhadap para pedagang dan nelayan yang mampu bekerjasama dan tolong menolong untuk bersama-sama mencari nafkah di TPI tersebut.

Suasana di bibir pantai saat tengah malam terlihat hiruk  pikuk kapal-kapal kecil yang terbuat dari kayu bersandar di tepi pantai. Lampu berwarna-warni dan cahaya petromaks dari kapal menerangi gelapnya tengah malam itu. Kapal-kapal tersebut mengantarkan ikan hasil tangkapan kepada pedagang dan pengumpul untuk dijual. Lalu lalang kendaraan seperti mobil box, motor, sepeda dan pejalan kaki memenuhi jalan di sekitar TPI. Suasana malam yang dingin saat itu belum terlihat konsumen yang datang. Hanya terlihat para pengumpul dan pedagang menimbang-nimbang hasil tangkapan dan menatanya di tempat dagang masing-masing. Sayangnya, aktivitas yang dilakukan pada saat itu tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup serta tidak adanya penataan tempat sandar kapal yang baik.

Kegiatan lapangan yang kami lakukan tidak terpaku pada aktivitas yang dilakukan di TPI tetapi juga aktivitas yang dilakukan di industri mebel garden. Pagi itu, ketika matahari mulai menyapa kami memulai kegiatan survey untuk mendapatkan informasi mengenai industri mebel garden. Masih terlihat dengan jelas ekspresi kelelahan dari wajah teman-teman setelah melakukan survey di TPI hingga dini hari. Kegiatan mulai kami lakukan dengan melakukan wawancara pada pelaku usaha industri mebel garden di sekitar jalan Jambu-Bondo yaitu Pak Siswo Dahyono. Beliau adalah pemilik usaha mebel garden “Onggo Sari Jati Teak Garden Furniture” yang merupakan usaha industri mebel dengan skala besar. Diketahui bahwa usaha industri yang ada di Desa Jambu memiliki 2 skala yaitu skala besar dan skala kecil dilihat dari produksi dan aktivitas perindustrian. Usaha dengan skala besar umumnya melakukan ekspor bukan hanya di luar wilayah tapi juga ke luar negeri. Sedangkan usaha skala kecil hanya memproduksi barang yang kemudian didistribusikan secara lokal atau dalam kota, apabila terjadi ekspor hanya berkisar luar kota saja.

Aktivitas yang terjadi di industri mebel garden dimulai pagi hari. Para pengrajin sibuk memotong-motong kayu dan membentuknya hingga menjadi kursi atau meja. Mereka bekerja dipenuhi debu sisa pemotongan kayu yang berterbangan serta kayu-kayu yang sudah tidak terpakai lagi yang teronggok di lantai. Pekerja lain sibuk mengamplas dan mengecat mebel tanpa tahu siapa yang akan membeli barang-barang mereka sebab mereka hanya tahu barang tersebut harus secepatnya diselesaikan sebelum matahari terbenam dan kemudian dimasukkan ke dalam kontainer untuk di bawa ke negeri seberang atau sebatas diangkut menggunakan mobil angkut dan dibawa ke Kota Besar untuk dipajang di show room meubel milik orang kota.

Disela-sela melakukan kegiatan lapangan di industri mebel garden ini kami merasa heran karena mayoritas industri yang dilakukan adalah berskala besar bahkan ada yang memasarkan hingga ke luar negeri tetapi mengapa sampai saat belum bisa mengangkat tingkat kehidupan para pekerjanya?. Selain itu, jalan disekitar industri mebel terlihat lalulalang kendaraan berat seperti container, truk dan mobil bax serta motor. Seharusnya diperlukan infrastruktur jalan yang baik. Namun sangat disayangkan, Desa Jambu belum memiliki jaringan jalan yang baik karena masih banyak jalan yang rusak dan kurang lebar untuk dapat menampung kendaraan pengangkut bahan baku dan hasil mebel garden.

Selain melakukan survey untuk mengetahui informasi mengenai potensi yang dimiliki Desa jambu, kami juga  melakukan survey mengenai hunian di sekitar Desa Jambu. Survey ini dilakukan dengan membagikan kuisioner secara door to door atau dari pintu ke pintu. Disini kami bertanya melalui kusioner kepada pemilik masing-masing rumah yang ada di permukiman disekitar Desa Jambu. Rata-rata penduduk yang ada di Desa Jambu adalah penduduk Asli, tetapi terdapat beberapa orang pula yang merupakan penduduk pendatang.

Penyebaran kuisioner kami lakukan mulai pukul 09.00 yaitu di sekitar Jalan Jambu-Bondo. Hampir seluruh responden memberikan jawaban yang sama mengenai kelengkapan sarana prasarana, fasilitas umum, cara mendapatkan air bersih, tingkat keamanan hingga peran pemerintah. Desa Jambu dan Desa Srobyong merupakan kawasan permukiman yang layak huni dilihat dari ketersediaan sarana dan prasarana seperti listrik, jaringan jalan, telepon, air bersih, drainase dan lain sebagainya.

Betapa uniknya Desa Jambu karena dibalik keramahan penduduknya tersimpan fenomena yang sangat jarang ditemui di belahan dunia manapun. Ketika semua daerah berlomba-lomba berurbanisasi, justru desa jambu mengalami deurbanisasi. Desa Jambu pernah mengalami proses urbanisasi ketika industri mebel di Jepara mengalami masa kejayaan. Penduduk yang tadinya bekerja sebagai nelayan dan petani berbondong-bondong beralih profesi menjadi pengrajin meubel. Nelayan yang tadinya menggunakan jaring, petani yang tadinya menggunakan cangkul sebagai alat untuk bekerja beralih menggunakan mesin pemotong kayu, alat tatah kayu dan amplas sebagai pengrajin meubel hingga mereka mengalami kemrosotan satu windu kemudian.

Industri meubel yang kian lesu membuat mereka menaruh kembali mesin pemotong kayu dan alat tatahnya dan mengambil jaring untuk melaut lagi. Sebagian lain yang tidak memilik keterampilan selain membuat meubel memilih pergi ke Kota Besar untuk merantau. Mereka hanya menggunakan mesin pemotong kayu dan alat tatahnya hanya ketika ada pesanan dari konsumen yang kebingungan melihat relasinya dulu sebagai pengusaha furniture kini bekerja sebagai nelayan atau keterampilan mereka digunakan hanya sebatas untuk memperbaiki perahu tua yang retak terhempas gelombang laut. Sebagian lagi asih tetap bertahan dengan profesinya meski tidak menentunya penghasilan mereka.

Keunikan perilaku masyarakat dalam menyikapi keterpurukan sangatlah memprihatinkan. Kami merasa heran, begitu mudahnya mereka menyerah dengan kondisi yang ada. Padahal, potensi yang ada belum dikelola secara optimal. Potensi bahari yang ada belum dikelola dengan baik serta potensi perdagangan dan jasa yang masih sangat minim dikembangkan di Desa Jambu padahal Desa Jambu dilewati jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Jepara dengan Kabupaten Pati. Selain itu, dengan adanya PLTU di dekat Desa Jambu, bisa menjadikan sumber penghasilan bagi penduduk dengan menyewakan tempat tinggal untuk para pekerja PLTU. Pekerjaan sebagai nelayan dan petani sudah kurang bisa diharapkan lagi karena jumlah penghasilan mereka sangat bergantung pada kondisi cuaca. Industri meubel juga sudah mengalami kesulitan bahan baku secara kualitas, mereka sulit mencari bahan baku dengan kualitas baik. Untuk itu, perlu adanya upaya untuk mengembangkan dan menggiatkan industri meubel melalui inovasi dan kreativitas dan sistem distribusi dan pemasaran yang baik. Perlu mengembangkan usaha hunian sebagai daerah penyangga keberadaan PLTU dan pengoptimalan fungsi perdagangan dan jasa melalui aksesibilitas yang baik. Bagaimana caranya? Tentu saja melalui perencanaan yang sebelumnya dilakukan Plan for Planning untuk mengidentifikasi dan lebih mendalami potensi dan masalah yang ada di Desa Jambu Kecamatan Mlonggo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s