Potensi dan Masalah Desa Jambu



1. Potensi Desa Jambu

Desa Jambu merupakan salah satu dari 8 desa yang berada di Kecamatan Mlonggo. Luas wilayah Desa Jambu secara keseluruhan adalah sebesar 4.240,239 Ha. Desa Jambu berada di wilayah pesisir di tepi Laut Jawa dengan ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut.

Desa Jambu Kecamatan Mlonggo secara topografi datar ditunjukkan dengan kelerengan sebesar 0-5%. Wilayah Desa Jambu yang beriklim tropik basah memiliki curah hujan sebesar 2000-3000 mm per tahun. Desa Jambu memiliki intensitas curah hujan sangat rendah sehingga suhu udara di wilayah tersebut cukup tinggi sehingga dapat mendukung kegiatan masyarakat  disekitar pantai dalam menjemur udang untuk membuat rebon (ebi).

Desa Jambu berbatasan langsung dengan Laut jawa dan merupakan daerah PANTURA. Air pantai di Desa Jambu dapat menjadi sumber pengairan utama bagi masyarakat disekitar pantai Desa Jambu sehingga pada saat musim kemarau dapat menjadi  sumber cadangan air yang cukup potensial untuk dimanfaatkan. Desa Jambu memiliki jenis tanah yaitu mediterania yang dapat subur untuk ditanami pepohonan sebagai bahan baku yang digunakan oleh industri mebel garden.

Iklim di Desa Jambu dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Musim hujan terjadi pada bulan November hingga Mei karena bertiup angin dari arah utara barat laut. Musim kemarau umumnya terjadi pada bulan November sampai April. Adanya angin laut pada siang hari dan angin darat pada malam hari dapat dimanfaatkan oleh para nelayan di Desa Jambu Para nelayan memanfaatkan angin darat untuk melaut dan mencari ikan, sedangkan angin laut digunakan nelayan untuk kembali ke daratan.

Dalam RDTRK IKK Mlonggo, Desa Jambu merupakan pusat BWK I yang melayani  Desa Srobyong dan Desa Sekuro. Desa Jambu merupakan pusat aktivitas dimana terdapat pasar kecamatan serta pusat pemerintahan yang melayani Desa-desa lain di Kecamatan Mlonggo. Di Desa Jambu terdapat jalan utama yang menghubungkan Kota Jepara dan Kota Pati serta jalan utama yang menghubungkan Kota Jepara dengan PLTU Tanjung Jati B di Kecamatan Bangsri. Dari aspek aksesibilitas Desa Jambu merupakan merupakan jalur penghubung yaitu menghubungkan antar beberapa kecamatan jalur menuju ke PLTU Jati B yang ada di Kecamatan Bangsri. Selain itu Desa Jambu juga digunakan sebagai jalur antar kota yaitu mengubungkan antara Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati. Dengan demikian diketahui bahwa Desa Jambu terletak pada jalur strategis yang memiliki aksesibilitas tinggi.

Desa Jambu merupakan wilayah pesisir karena memiliki daerah pantai atau berbatasan dengan laut sehingga memiliki potensi Ikan yang melimpah. Untuk mendukung potensi tersebut dibangunlah tempat pelelangan ikan. Desa Jambu yang berdekatan dengan laut dan menjadi daerah pesisir maka dapat menghasilkan ikan yang lebih banyak dibandingkan dengan desa lain.

Desa Jambu yang memiliki topografi landai dan dilalui jalur antar kota yang menghubungkan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati sehingga menjadikan Desa Jambu mempunyai industri mebel garden. Industri Mebel Garden merupakan mebel yang hasil produksinya berupa perabotan yang diletakkan di taman seperti kursi taman meja taman payung taman dan tempat lampu. Potensi tersebut berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian di Kecamatan Mlonggo. Pengaruh yang terjadi diatara keduanya berbanding lurus yaitu jika pendapatan yang diperoleh dari industri mebel garden dan TPI Jambu meningkat maka pendapatan yang ada di Kecamatan Mlonggo juga akan meningkat begitu pula sebaliknya.

2. Masalah Desa Jambu

 Desa Jambu adalah desa pesisir Kecamatan Mlonggo dimana secara fisik wilayahnya berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Wilayah pesisir ini berada pada ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Dilihat dari letaknya tak heran jika Desa Jambu memiliki iklim yang tropis dan suasana yang panas. Wilayah pesisir Desa Jambu dimanfaatkan penduduk sekitar untuk mencari ikan kemudian menjualnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil tangkapan ikan yang bisa didapat oleh nelayan cukup banyak dengan berbagai macam jenis ikan. Hingga dibangunnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jambu dibawah pengelolaan pemerintah provinsi yang digunakan untuk menampung aktivitas penduduk di daerah pesisir. Namun sangat disayangkan, setelah sekian lamanya TPI ini dibangun kondisi fisik masih belum ada perbaikan yang baik. Hal ini dapat terlihat dari lokasi tempat penimbangan dan penjualan yang masih beralaskan tanah. Hal ini menyebabkan kebersihan ikan hasil tangkapan tidak terjamin. Kondisi fisik ini tidak semata-mata kesalahan pemerintah yang kurang memperhatikan keberlangsungan TPI Jambu ini, melainkan juga kurangnya kesadaran dan inovasi dari penduduk sekitar untuk memperbaiki kondisi TPI melalui gotong royong. Jika hal ini dibiarkan maka tidak aka nada perubahan TPI Jambu menjadi lebih baik.

Secara gamblang diketahui bahwa sumberdaya alam seperti ikan jika dilakukan penangkapan secara terus menerus maka lama kelamaan akan habis keberadaannya. Rendahnya pendidikan penduduk di sekitar pesisir menyebabkan pola pikir yang instan dan kurangnya inovasi untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Mereka tidak mempunyai inovasi untuk membuat semacam budidaya ikan yang dimaksudkan untuk menanggulangi kelangkaan ikan yang kemungkinan terjadi. Selain itu, tangkapan ikan yang diperoleh nelayan dipengaruhi oleh alat tangkap dan kondisi lingkungan, seperti cuaca. Oleh karena itu, para nelayan mengusahakan peningkatan teknologi untuk meningkatkan jumlah tangkapan ikan. Akan tetapi pada kenyataannya semakin canggih alat yang digunakan justru jumlah produksi ikan semakin menurun. Hal ini sangat disayangkan, karena alat secanggih apapun jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang luas maka akan sia-sia. Seluruh hambatan yang ada menyebabkan tidak meningkatnya kesejahteraan penduduk di sekitar pesisir.

Kondisi fisik Desa Jambu yang jauh dari pantai didominasi oleh aktivitas industri, perdagangan dan jasa. Aktivitas industri yang menonjol di Desa Jambu yaitu industri mebel garden yang lahir pada Tahun 1998. Hasil olahan industri mebel garden yaitu berupa kursi taman, meja taman, bangku pantai (lounger), dan paying taman. Bahan baku yang digunakan untuk industri mebel utamanya adalah kayu jati namun ada pula yang menggunakan kayu mahoni karena harga yang lebih murah. Diketahui bahwa bahan baku yang digunakan didominasi oleh bahan yang berasal dari alam dan keberadaannya dikuasai oleh TPK (Perhutani) dan kayu rakyat (jati kampung) maka harga jayu jati yang diberikan relatif lebih mahal karena harus membayar pajak perusahaan.

Tingginya permintaan akan mebel garden menyebabkan tingginya kebutuhan akan bahan baku. Hal ini berbanding terbalik dengan keberadaan bahan baku kayu tersebut sehingga menyebabkan produksi mebel menurun karena sulitnya mendapatkan bahan baku. Hal ini sangat disayangkan karena disaat permintaan meningkat bahan baku justru menurun sehingga harga yang ditawarkan produsen semakin melambung. Jika hal ini dibiarkan maka potensi industri ini tidak akan berkembang dan terjadinya deurbanisasi yaitu kembalinya matapencaharian penduduk ke sector pertanian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s